Breaking News
Loading...
Sabtu, 21 Agustus 2010

Info Post
Manusia adalah mahluk sosial, karena itu manusia tidak bisa hidup sendiri. Maka manusia sangat membutuhkan manusia yang lainnya, baik itu; keluarga, sahabat, orang yang dicintainya dan masyarakat lingkungannya. Pada kesempatan ini penulis akan sedikit membahas topik persahabatan karena sahabat adalah orang yang mampu membawa kita kepada suatu perubahan. Topik ini akan sedikit kita bahas karena penulis telah mendapatkan begitu banyak ilmu dari sebuah buku yang berjudul Akhlaq al-Mu'min, yang dikarang oleh Dr. Amr Khaled (Motivator Muslim Dunia).
Topik ikatan persahabatan sering kali merisaukan para orangtua. Karena, persahabatan dianggap bisa menjerumuskan dan menghancurkan para pemuda, atau sebaliknya, dapat memberi pencerahan dan petunjuk kepada mereka. Terdapat tiga macam jenis sahabat: 1) Sahabat yang suka bermaksiat, jauh dari agama dan akhlak; 2) Sahabat yang baik tapi lalai; 3) Sahabat yang taat. Lalu kita semua termasuk jenis sahabat yang mana dari ke-tiga kategori tersebut?. Disini tidak menganjurkan untuk membeda-bedakan/memilih sahabat apakah dia kaya atau miskin, apakah gaul atau kuper atau sebagainya, akan tetapi kita harus mencari sahabat yang berguna untuk kita baik di dunia maupun di akhirat.
Apakah sahabatmu jahat atau baik?. Sahabat yang membantumu untuk taat kepada Allah,SWT. atau sahabat yang dapat menjauhkanmu dari-Nya?. Apakah sahabatmu bisa menjaga pendidikan yang telah kaudapatkan dirumah atau tidak?. Apakah sahabatmu dapat menjaga amanah dan aib mu yang telah kamu ceritakan kepadanya?.
Banyak anak yang sebenarnya telah mendapat pendidikan baik dari keluarga mereka yang cukup terhormat, namun kemudian justru melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Bahkan, keluarganya sendiri juga terperanjat ketika mengetahui bahwa ia melakukan ini dan itu. Tidak jarang orangtua baru mengetahui kebejatan moral anaknya ketika mereka telah ditangkap polisi, tentu mereka terkejut, hanya saja amat disayangkan mereka tidak memperhatikan siapa yang menjadi sahabat. Mereka kurang peduli dengan masalah ini, padahal yang paling sering menghancurkan seseorang adalah sahabatnya. Pada saat yang sama yang paling sering memberikan petunjuk kepada seseorang juga sahabatnya. Sebenarnya, ini bukan hanya masalah kita dan bukan masalah yang hanya muncul pada zaman ini saja, melainkan juga sudah disebutkan dalam Al-Qur'an dan sunnah sejak berabad-abad silam. Bahkan, sejak Nabi Musa a.s., ketika ia berkata:
"Wahai Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti ucapanku. Berilah aku seorang pembantu "sahabat" dari keluargaku, yaitu Harun saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Jadikanlah ia sekutu dalam urusanku. Supaya kami banyak bertasbih kepada-Mu dan banyak mengingat-Mu. Engkau Maha Melihat keadaan kami. (Q.S. Thaha: 25-35)".
Nabi Musa a.s adalah seorang nabi dan termasuk Ulul Azmi. Seolah-olah beliau merasa tidak mampu sendirian untuk berdzikir dan beribadah. Ia membutuhkan orang yang bisa membantunya. Allah, SWT. pun berfirman kepada Nabi Muhammad, SAW.:
"Bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan di waktu pagi dan petang dengan mengharap ridha-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharap perhiasan kehidupan dunia. Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya telah melewati batas. (Q.S. al-Kahf: 28)".  
Seorang sahabat bukanlah orang yang karena kondisi tertentu ia berada bersamamu. Tetapi, sahabat adalah orang pilihanmu, kita harus melihat apakah ia cocok dengan pendidikan, lingkungan, akhlak, agama, dan tabiatmu. Karena itu, Rasulullah, SAW. "Seseorang akan bersama orang yang dicintainya. (HR al-Bukhairi dan Muslim)".
Pada hari kiamat nanti, kita akan datang bersama orang yang kau cintai. Karena itu, pilihlah dari sekarang bersama siapa kita ingin datang?. Jika kita mencintai Rasulullah, SAW. dan para sahabat, serta orang-orang yang suci, berakhlak, terhormat, dan taat, maka kita akan datang bersama mereka, Insya Allah. Karena, seseorang akan dikumpulkan pada Hari kiamat bersama orang yang dicintainya. Maka dari itu kita harus mengenal sahabat kita dan seperti kalimat kiasan ini kita harus mengenal siapa kawan dan siapa lawan.

0 komentar: