Breaking News
Loading...
Kamis, 25 Februari 2010

Info Post
FACHRUL REZA ADUNG
JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA

Abstrak: Penelitian ini memiliki tujuan, (1) untuk mengetahui pengaruh faktor fundamental Price Earning Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Equity, dan Book Value secara  bersama-sama  dan secara parsial terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI), (2) untuk mengetahui variabel apakah yang berpengaruh dominan terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam penelitian ini, sampel ditetapkan sebanyak 17 perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 selama periode 2004-2008 yang memenuhi kriteria sebagai sampel. Penelitian ini menghasilkan faktor-faktor fundamental Price Earning Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Equity, dan Book Value  menyatakan bahwa secara  bersama-sama ada pengaruh  yang  signifikan terhadap return saham, pada  uji  t  (parsial) faktor fundamental Price Earning Ratio dan Return on Equity secara parsial memiliki  pengaruh  siginifikan terhadap return saham, selanjutnya variabel Price Earning Ratio (PER) berpengaruh dominan terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kata Kunci: Price Earning Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Equity, Book Value, dan Return Saham.




1.       Pendahuluan
Permasalahan penting yang dihadapi oleh hampir semua perusahaan adalah bagaimana mendapatkan modal guna mendukung kegiatan operasionalnya. Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan, sedangkan alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari kreditur (investor) berupa utang maupun pendanaan yang bersifat penjualan  saham.
Motivasi perusahaan melakukan penjualan sahamnya secara umum untuk melakukan perluasan usaha, meningkatkan modal dasar perusahaan, dan memperbaiki struktur hutang sebagai pendanaan perusahaan. Dalam perkembangannya, bila perusahaan menjadi lebih besar akan semakin membutuhkan tambahan modal untuk memenuhi peningkatan aktivitas operasionalnya. Keadaan tersebut menuntut kebutuhan dana yang cukup bagi perusahaan untuk bertahan dan bersaing. Salah satu cara yang diambil perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dana guna mengembangkan perusahaan agar tetap dapat bersaing adalah dengan cara memberi sinyal kepada investor untuk melakukan investasi. Untuk berinvestasi dalam bentuk saham, seorang investor yang rasional akan mengivestasikan dananya dengan memilih saham-saham yang efisien, yang dapat memberikan return maksimal dengan tingkat risiko tertentu atau return tertentu dengan risiko yang seminimal mungkin (Budileksmana & Gunawan, 2003).
Dari hal tersebut investor membutuhkan berbagai informasi yang dijadikan sebagai sinyal (signal) untuk menilai prospek perusahaan yang bersangkutan yaitu dengan menganalisis laporan keuangan dengan rasio keuangan. Investor dalam melakukan kegiatan investasi, hal yang pertama kali diperhitungkan adalah tingkat pengembaliannya (return), investasi dalam bentuk saham maka yang akan dihitung adalah berapa dividen atau berapa capital gain yang akan diterima. Para investor maupun calon investor mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraannya yaitu dengan mengharapkan return dalam bentuk dividen maupun capital gain dan di lain pihak perusahaan juga mengharapkan adanya pertumbuhan secara terus menerus untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan sekaligus juga memberikan kesejahteraan yang lebih besar kepada para pemegang sahamnya (Damayanti & Achyani, 2006).
Faktor fundamental menitik beratkan pada rasio finansial dan kejadian - kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, sebagian pakar berpendapat faktor fundamental lebih cocok untuk membuat keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang dibeli untuk jangka panjang (id.wikipedia.org). Faktor-faktor fundamental dapat diukur dari beberapa aspek meliputi: Price Earning Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Equity, dan Book Value. Perusahaan yang berkinerja baik akan dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih diharapkan dari pada berinvestasi pada perusahaan yang berkinerja tidak baik. Untuk itu diperlukan suatu penilaian kinerja pada perusahaan-perusahaan yang akan dijadikan sebagai tempat investasi.
Dari paparan hal-hal tesebut diatas, patut menjadi bahan kajian yang menarik secara akademik melalui analisis return saham melalui faktor fundamental perusahan. Berdasarkan  latar  belakang  masalah  yang  telah  diuraikan  di  atas,  maka  rumusan  masalah  yang  ingin  diungkap  adalah: (1) Apakah faktor fundamental PER, DER, ROE, dan BV secara bersama-sama berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI)? (2) Apakah faktor fundamental PER, DER, ROE, dan BV secara  parsial  berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI)? (3) Manakah dari faktor fundamental PER, DER, ROE, dan BV yang berpengaruh dominan terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI)?.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui : (1) Pengaruh faktor fundamental PER, DER, ROE, dan BV secara  bersama-sama  terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI). (2) Pengaruh faktor fundamental PER, DER, ROE, dan BV secara  parsial  terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI). (3) Variabel apakah yang berpengaruh dominan terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2.       TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
a.       Return Saham
Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi, return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi tetapi diharapkan akan terjadi masa mendatang (Jogiyanto, 2008). Return saham adalah sejumlah tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor melalui harga yang telah diinvestasikan melalui saham. Pengertian return saham pada penelitian ini sama dengan capital gain, karena belum ada pembagian dividen. Capital gain (loss) merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Jika harga saham invetasi sekarang lebih tinggi dari harga saham investasi periode lalu ini berarti terjadi keuntungan modal (capital gain), sebaliknya terjadi kerugian modal (capital loss)  (Jogiyanto, 2008).

b.       Faktor-faktor Fundamental yang Mempengaruhi Return Saham
Salah satu faktor yang sangat diperhatikan oleh investor dalam memilih saham adalah kinerja keuangan perusahaan. Dengan demikian, dari sudut pandang investor, kinerja keuangan yang baik pada suatu perusahaan akan menawarkan tingkat return yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain yang memiliki kinerja keuangan yang  lebih buruk. Seperti telah diuraikan bahwa untuk mendapatkan keuntungan (capital gain) adalah membeli saham ketika harga akan naik lalu menjualnya ketika harganya akan turun, ada beberapa faktor yang harus disadari oleh setiap investor yang mempengaruhi return saham.
Ada faktor yang bersifat fundamental ada juga yang bersifat makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, keamanan, dan faktor lainnya. Faktor Fundamental adalah faktor yang berkaitan langsung dengan kinerja emiten itu sendiri. Semakin baik kinerja emiten maka semakin besar pengaruhnya terhadap kenaikan harga saham. Begitu juga sebaliknya, semakin menurun kinerja emiten maka semakin besar merosotnya harga saham yang diterbitkan dan diperdagangkan. Selain itu keadaan emiten akan menjadi tolak ukur seberapa besar risiko yang bakal di tanggung oleh investor (Arifin, 2002).
Analisis fundamental memperkirakan harga saham dengan mengestimasikan faktor-faktor fundamental yang diperkirakan mempengaruhi harga saham dimasa yang akan datang, tentu saja menggunakan data keuangan perusahaan (Jogiyanto, 2008). Analisis faktor-faktor fundamental biasanya dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. yaitu (id.wikipedia.org):
1)       Price Earning Ratio (PER)
Untuk menilai murah atau mahal sebuah saham biasanya digunakan analisis rasio Price Earning Ratio (PER) (Arifin, 2002). PER menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
2)       Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio adalah rasio untuk melihat seberapa besar kemampuan perusahaan untuk melunasi hutangnya dengan modal yang mereka miliki (Arifin, 2002). Rasio ini sering disebut dengan istilah Rasio Leverage, menggambarkan struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, dengan demikian dapat dilihat struktur risiko tidak tertagihnya  hutang.
3)       Return on Equity (ROE)
Return on Equity, rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila di ukur dari modal pemilik, semakin besar ROE semakin bagus (Harahap, 2002).
4)       Book Value (BV)
Book Value atau nilai buku pada dasarnya nilai riil suatu saham nilai buku suatu perusahaan dapat diperoleh dengan cara membagi seluruh modal sendiri perusahaan dengan semua saham yang telah dikeluarkan dan disetor penuh (Siamat, 2005). 
Pemilihan faktor-faktor tesebut sebagai faktor fundamental didasarkan pada pemikiran bahwa faktor-faktor fundamental tersebut yang mempengaruhi return saham para pemodal atas investasinya.

c.        Penelitian Terdahulu
1)       Natarsyah (2002), melakukan penelitian mengenai analisis pengaruh beberapa faktor fundamental dan resiko sistematik terhadap harga saham kasus industri barang konsumsi yang go-public di pasar modal Indonesia. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel ROA,dan DER berpengaruh positif dan signifikan pada level 5% terhadap harga saham, variabel dummy  beta sebagai risiko sistematik berpengaruh positif dan signifikan pada level 10% terhadap harga saham, variabel BV berpengaruh positif secara dominan dan signifikan pada level 5% terhadap harga saham, variabel DPR berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap harga saham, variabel ROE dikeluarkan dari model analisis karena terjadi multikolineritas dengan variabel ROA.
2)       Budileksmana dan Gunawan (2003), melakukan penelitian mengenai pengaruh indikator rasio keuangan perusahaan Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) terhadap return portofolio saham di Bursa Efek Jakarta. Hasil dari penelitian ini adalah dari analisis yang dilakukan secara keseluruhan menolak hipotesis yang telah diajukan yang menyatakan bahwa portfolio yang dibentuk berdasarkan rasio PER dan PBV rendah akan menghasilkan return portofolio yang lebih tinggi dari portofolio saham yang dibentuk berdasarkan PER dan PBV tinggi.
3)       Suharli (2005), melakukan penelitian tentang studi empiris dua faktor yang mempengaruhi return saham pada industri food dan beverages di Bursa Efek Jakarta. . Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rasio hutang DER dan beta yang menggambarkan sebagai risiko sistematik tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.
4)       Wijaya (2007), melakukan penelitian tentang kontribusi rasio keuangan terhadap perubahan laba perbankan di Bursa Efek Surabaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel CAR, NPL, PPAP, LDR, ROA, ROE, K/D, BOPO, dan NIM  berpengaruh secara serentak terhadap perubahan laba perusahaan perbankan di BES, variabel CAR, LDR, dan ROA secara parsial berpengaruh terhadap perubahan laba perusahaan perbankan di BES, dan variabel ROA secara dominan mempengaruhi terhadap perubahan laba perusahaan perbankan di BES.

d.       Kerangka Teoritis
Berdasarkan penelitian terdahulu, maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah mengetahui dan menguji apakah terdapat pengaruh faktor fundamental PER, DER, ROE, dan BV terhadap return saham pada perusahaan yang masuk ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI).



e.        Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran, penelitian terdahulu dan landasan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis dalam penelitian ini yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut:
 H1: Faktor fundamental Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE), dan Book Value (BV) secara  bersama-sama  berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI)
H2: Faktor fundamental Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE), dan Book Value (BV) secara  parsial  berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI).
H3: Rasio Book Value (BV) secara dominan berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

3.       METODE PENELITIAN
a.       Populasi, Sampel dan Data Penelitian
Polulasi yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia,  periode Agustus 2004 – Januari 2009, dari populasi yang sudah ditentukan terdapat 89 perusahaan. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling. Metode Purposive Sampling adalah metode penentuan sampel dengan berdasarkan atas kriteria-kriteria tertentu:



Tabel 3.1. Kriteria Sampel Perusahaan
Kriteria Perusahaan
Jumlah Perusahaan
1.       Perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia periode Agustus 2004 - Januari 2009.
85
2.       Perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 periode Agustus 2004 - Januari 2009 tidak secara berturut-turut.
(68)
3.      Perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 periode Agustus 2004 - Januari 2009 secara berturut-turut, yang menerbitkan laporan keuangan, telah diaudit dan dipublikasikan periode 2004-2008.
17



Dalam penelitian ini, sampel ditetapkan sebanyak 17 perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 selama periode 2004-2008 yang memenuhi kriteria sebagai sampel. Jenis  data  yang  digunakan  dalam  pengumpulan  data  adalah  data  sekunder. Sumber data dalam penelitian ini adalah: Pusat Data Bisnis dan Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada,  dan Indonesian Stock Exchange/Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id). 

b.      Definisi Operasional Variabel
Variabel
Definisi Variabel
Keterangan
Return Saham
Pengertian return saham pada penelitian ini sama dengan capital gain, yaitu dengan cara menghitung selisih harga saham periode berjalan dengan mengabaikan dividen, karena belum ada pembagian divide (Jogiyanto, 2008)
Variabel Dependen (Y)
Price Earning Ratio (PER)
PER  merupakan rasio untuk menghitung berapa besar investasi yang dibayar oleh investor untuk memperoleh sejumlah aliran pendapatan earning tertentu atau kebalikannya merupakan apa yang investor dapatkan dari sejumlah investasi tertentu  (Budileksmana & Gunawan, 2003).
Variabel Independen (X1)
Debt to Equity Ratio (DER)

DER mengukur persentase dari dana yang yang diberikan oleh para kreditor, kreditor lebih menyukai rasio utang yang lebih rendah karena semakin rendah angka rasionya, maka semakin besar peredam dari kerugian yang dialami kreditor jika terjadi likuidasi (Brigham & Houston, 2006).
Variabel Independen (X2)
Return on Equity (ROE)
ROE  mengukur tingkat pengembalian atas investasi dari pemegang saham, para pemegang saham melakukan investasi untuk mendapatkan pengembalian atas uang mereka (Brigham & Houston, 2006).
Variabel Independen (X3)
Book Value (BV)
Book Value atau nilai buku pada dasarnya nilai riil suatu saham nilai buku suatu perusahaan dapat diperoleh dengan cara membagi seluruh modal sendiri perusahaan dengan semua saham yang telah dikeluarkan dan disetor penuh (Siamat, 2005).
Variabel Independen (X4)



c.        Metode Analisis Data
Untuk mengetahui hubungan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi return saham maka dalam penlitian ini model  yang  digunakan  untuk  menguji  hipotesis  adalah  Regresi  Linier  Berganda.

d.       Pengujian Hipotesis
1)       Uji Asumsi Klasik
Untuk  melihat  apakah  model regresi linear berganda di atas  sudah dapat diterima secar ekonometrika jika  memenuhi  kriteria  Best  Linear  Unbias  Estimator  (BLUE)/penaksiran tak bias linear, dan dengan asumsi kenormalan, didistribusikan secara normal. Maka  perlu  dilakukan  beberapa  pengujian  asumsi  klasik  yang  meliputi
a)       Uji Multikolinearitas
Untuk  pendeteksian multikolinieritas  pada  model  yang  diajukan,  maka  dapat dilihat pada hasil Collinearity Statistics pada tabel Coefficiens. Pada Collinearity Statistics terdapat nilai Variance Infitation Factor (VIF) dan Tolerance. Jadi tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tingggi (karena VIF=1/Tolerance). Jika nilai Tolerance < 0.10 dan jika nilai VIF > 10 maka terjadi multikolineritas yang serius (Ghozali, 2009).
b)       Uji Heteroskendastisitas
Cara untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas dapat dilihat pada grafik Scatterplot, jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan dibawah angka (0) pada sumbu Y secara acak, maka tidak terjadi heterokedastisitas (Ghozali, 2009).
c)       Uji Autokorelasi
Deteksi adan atau tidakya autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-Watson (DW test). Uji DW hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu dan mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regresi, untuk melihat ada tidaknya autokorelasi dapat dijelaskan berikut ini (Ghozali, 2009)

2)       Uji Signifikansi Bersama-sama (Uji F)
Membuat  kriteria  pengujian  hipotesis  keputusan  menerima  atau  menolak  hipotesis  didasarkan  pada  kriteria:
a)       Jika  signifikansi  F hitung ≤ α  maka  Hditerima
b)       Jika  signifikansi  F hitung > α  maka  Ha  ditolak
3)       Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Membuat  kriteria  pengujian  hipotesis  keputusan  menerima  atau  menolak  hipotesis  dilakukan  dengan  melihat  tingkat  signifikansi  95%  atau  α  =  5%.
a)       Jika  signifikansi  t  hitung ≤ α  maka  Hditerima.
b)       Jika  signifikansi  t hitung > α  maka  Ha  ditolak.
4)       Variabel Dominan terhadap Return Saham.

4.       Hasil Penelitian dan Pembahasan
a.       Pengujian Asumsi Klasik 2
Untuk mengetahui apakah hasil estimasi regresi yang dilakukan betul-betul terbebas dari adanya gejala Multikolinearitas, gejala Heteroskedastisitas, dan gejala Autokorelasi perlu dilakukan pengujian. Untuk mendeteksi gejala tersebut melihat dengan (1) melihat Descriptive Statistics, (2) melihat nilai Adj. R Square dan signigikansi nilai t dari hasil estimasi regresi seluruh variabel, (3) melihat nilai VIF,dan (4) melihat grafik Scatterplot, yang akan disajikan pada tabel 4.1. Descriptive Statistics, tabel 4.2. Hasil estimasi regresi seluruh variabel, 4.3. Collinearity Statistics, dan Gambar 4.1. Grafik Scatterplot.



Tabel 4.1. Descriptive Statistics
Descriptive Statistics

Mean
Std. Deviation
N
RETURN
.831939
3.5945546
85
PER
16.3125
17.82362
85
DER
3.2880
3.45791
85
ROE
.2005
.31438
85
BV
2014.6618
2726.16318
85
                                Sumber:  Data Diolah, 2010

Tabel 4.2. Hasil Estimasi Regresi Seluruh Variabel
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients

B
Std. Error
Beta
T
Sig.
1
(Constant)
-.238
.784

-.304
.762
PER
-.006
.021
-.029
-.272
.786
DER
.341
.115
.328
2.969
.004
ROE
1.048
1.203
.092
.871
.386
BV
.000
-.062
-.558
.578

F Statistik: 2.981
DW Statistik: 1.117
R Square: 0.130
Adjusted R Square: 0.086
Sig. F: 0.024


Sumber:  Data Diolah, 2010

Tabel 4.3. Collinearity Statistics
Coefficientsa
Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
1
PER
.976
1.024
DER
.893
1.119
ROE
.983
1.017
BV
.874
1.144
Sumber:  Data Diolah 2010




Berdasar hasil perhitungan pada tabel 4.1 Descriptive Statistics bahwa dari 17 perusahaan sampel dengan menggunakan data pooled dimana 17 perusahaan diteliti selama periode pengamatan tahun 2004-2008 (5 tahun), sehingga sample dalam penelitian ini menjadi 17 x 5 = 85 sehingga sampel yang digunakan sejumlah 85, RETURN mempunyai nilai rata-rata (mean) sebesar 0.831939 dengan standar deviasi (SD) sebesar 3.5945546, dimana nilai SD ini lebih besar dari pada rata-rata RETURN. Hasil yang sama juga terjadi pada 4 (empat) variabel independen yaitu PER, DER, ROE, dan BV.
Hasil dari pengujian estimasi regsresi pada tabel 4.2. Hasil estimasi regresi seluruh variabel, menunjukkan bahwa secara eksplisit terdapat asumsi yang terlanggar pada uji asumsi klasik yaitu terjadinya autokorelasi positif yang dapat  dijelaskan  bahwa  nilai  DW statistik 1.117  lebih  kecil  dari  pada batas bawah (dl) 1.550  dan  lebih  kecil  dari pada batas atas (du)  1.747, (0<1.117<1.550).  Maka  dalam hal ini bahwa penggunaan model persamaan regresi variabel PER, DER, ROE, dan BV terhadap Return Saham terdapat autokorelasi  positif di  antara  variabel-variabel  independen, karena nilai DW terletak diantara 0 dan batas bawah (dl). Juga terlanggarnya uji Heteroskendastisitas yaitu terlihat pada tampilan grafik 4.1. Scatterplot, diatas menunjukkan bahwa titik-titik tidak menyebar, baik diatas maupun dibawah nilai 0 pada sumbu Y membentuk sebuah pola melebar kemudian menyempit. Hal ini berarti bahwa mengindikasikan terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi tersebut tidak sesuai dan belum layak digunakan dalam pengujian terhadap Return Saham.
Hasil uji heteroskedastisitas dan hasil uji autokorelasi secara ekplisit mengindikasikan terjadi heteroskedastisitas dan autokorelasi positif yang terjadi pada uji asumsi klasik. Untuk menguji apakah di dalam sampel terdapat sampel yang bermasalah sehingga mengindikasikan terjadi heteroskedastisitas dan terjadi autokorelasi positif maka dilakukan  pengujian casewise diagnostics dengan outliers outside 3 standard deviations yang dapat dilihat dari tabel 4.4.



Tabel 4.4. Casewise diagnostics
Casewise Diagnosticsa
Case Number
Std. Residual
RETURN
Predicted Value
Residual
31
6.902
27.8136
4.096072
23.7175280
32
3.115
13.7664
3.061521
10.7048787
27
3.037
4.5576
.275071
4.2825286
33
5.899
8.8596
.541089
8.3185112
a. Dependent Variable: RETURN
Sumber:  Data Diolah 2010



Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.4. casewise diagnostics, menunjukkan casewise diagnostics secara eksplisit pada sampel nomor 31, 32, 27, dan 33 pada RETURN 27.8316, 13.7664, 4.5576, dan 8.8596 dan Std. Residual 6.902, 3.115, 3.037,dan 5.899, melebihi 3 standard deviations yang disyaratkan. Berdasarkan  hasil  uji  multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi,  model regresi tidak memenuhi  asumsi  klasik. Disebabkan terdapat uji asumsi klasik yang dilanggar yaitu terindikasi terjadi heteroskedastisitas dan terjadinya autokorelasi positif, untuk mengobati heteroskedastisitas dan autokorelasi yang terjadi adalah dengan cara mengeluarkan sampel nomor 31, 32, 27, dan 33 pada RETURN setelah dilakukan pengujian  casewise diagnostics kembali.
Model regresi berganda pada penelitian ini belum memenuhi  kriteria  Best  Linear  Unbias  Estimator  (BLUE) /penaksiran tak bias linear, sehingga pegujian kembali terhadap model regresi.  Pengujian selanjutnya terhadap asumsi ini dilakukan kembali yakni metode analisis data, uji  multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi.

b.       Pengujian Asumsi Klasik 2
Untuk mengetahui apakah hasil estimasi regresi yang dilakukan betul-betul terbebas dari adanya gejala Multikolinearitas, gejala Heteroskedastisitas, dan gejala Autokorelasi perlu dilakukan pengujian kembali. Untuk mendeteksi gejala tersebut melihat kembali (1) melihat Descriptive Statistics, (2) melihat nilai Adj. R Square dan signigikansi nilai t dari hasil estimasi regresi seluruh variabel, (3) melihat nilai VIF,dan (4) melihat grafik Scatterplot, yang akan disajikan pada tabel 4.5. Descriptive Statistics, tabel 4.6. Hasil estimasi regresi seluruh variabel, 4.7. Collinearity Statistics, dan Gambar 4.2. Grafik Scatterplot.



Tabel 4.5. Descriptive Statistics
Descriptive Statistics

Mean
Std. Deviation
N
RETURN
.194044
.9921899
81
PER
16.6616
18.16324
81
DER
3.0701
3.25738
81
ROE
.2027
.32152
81
BV
2097.3923
2766.93853
81
                     Sumber:  Data Diolah 2010
Tabel 4.6. Hasil Estimasi Regresi Seluruh Variabel
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients

B
Std. Error
Beta
T
Sig.
1
(Constant)
-.009
.213

-.042
.967
PER
.015
.006
.274
2.625
.010
DER
-.023
.033
-.075
-.687
.494
ROE
.814
.321
.264
2.537
.013
BV
.000
-.188
-1.715
.090

F Statistik: 4.545
DW Statistik: 2.072
R Square: 0.193
Adjusted R Square: 0.151
Sig. F: 0.002


Sumber:  Data Diolah, 2010
Tabel 4.7. Collinearity Statistics
Collinearity Statistics a
Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
1
(Constant)


PER
.972
1.029
DER
.899
1.113
ROE
.984
1.017
BV
.880
1.137
a. Dependent Variable: RETURN
Sumber:  Data Diolah, 2010

Berdasar hasil perhitungan pada tabel 4.5 Descriptive Statistics RETURN mempunyai nilai rata-rata (mean) sebesar 0.194044 dengan standar deviasi (SD) sebesar 0.9921899, dimana nilai SD ini lebih besar dari pada rata-rata RETURN. Hasil yang sama juga terjadi pada 4 (empat) variabel independen yaitu PER, DER, ROE, dan BV.
Berdasarkan  hasil  uji  multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi.  Model regresi memenuhi  asumsi  klasik. Hasil Uji Autokorelasi pada tabel 4.6. Hasil estimasi regresi seluruh variabel, dapat  dijelaskan  bahwa  nilai  DW  2.072  lebih  besar  dari  pada batas bawah (dl) 1.534  dan  lebih  besar  dari pada batas atas (du)  1.743, (1.743<2.072<2.257).  Maka  dalam hal ini bahwa penggunaan model persamaan regresi variabel PER, DER, ROE, dan BV terhadap Return Saham tidak tidak ada autokorelasi di  antara  variabel-variabel  independen, karena nilai DW terletak diantara du (batas atas) dan 4 – du (batas atas) atau (du <4-du). Terlihat pada tampilan grafik 4.2. Scatterplot, diatas menunjukkan bahwa titik-titik menyebar, baik diatas maupun dibawah nilai 0 pada sumbu Y secara acak. Hal ini berarti bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi tersebut sesuai dan layak digunakan dalam pengujian terhadap Return Saham.


c.        Pembahasan
Hasil analisis dalam penelitian ini yang melakukan pengujian pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap return saham, sebagai berikut:
1)       Nilai R2 adalah 0.193, maksudnya model regresi yang digunakan hanya mampu menjelaskan keadaan sebenarnya sebesar 19.3% variabel return saham dapat dijelaskan oleh variabel  PER (X1), DER (X2), ROE (X3), dan BV (X4), sedangkan sisanya (100% - 19.3% = 80.7%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar variabel independen. Apabila terjadi penambahan faktor-faktor fundamental atau banyak faktor-faktor fundamental yang dimasukan dalam model regresi maka akan menghasilkan nilai R² tinggi, akan tetapi nilai koefisiensi regresi tidak ada yang signifikan atau memilki tanda koefisien yang berlawanan dari yang diharapkan secara teori.
2)       Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa faktor-faktor fundamental Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE), dan Book Value (BV) secara  bersama-sama  berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI).
3)       Penjelasan mengenai faktor fundamental Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE), dan Book Value (BV) secara  parsial  terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI), adalah sebagai berikut:
a)       Variabel PER (X1) mempunyai pengaruh signifikan dan positif yang dominan. Hasil ini menunjukkan bahwa PER mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham yang diterima oleh pemegang saham. Artinya, semakin kecil PER suatu saham semakin bagus karena saham tersebut semakin murah, sehingga pada saat harga saham mengalami kenaikan para investor yang membeli saham dengan PER yang rendah maka akan mendapatkan return saham yang tinggi. Hasil  penelitian  ini  tidak  mendukung  hasil  dari  penelitian Budileksmana dan Gunawan (2003), dalam penelitian tersebut membuktikan bahwa para investor tidak mempertimbangkan indikator PER yang rendah dalam pemilihan saham untuk memetik keuntungan dari capital gain seiring dengan pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga para investor memilih PER tinggi yang dikategorikan sebagai growth stock karena diharapkan dalam jangka panjang investor mendapatkan return saham yang tinggi seiring dengan pertumbuhan perusahaan yang akan datang.
b)       Variabel DER (X2) mempunyai pengaruh tidak signifikan dan negatif. Hasil ini menunjukkan bahwa DER  tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham yang diterima oleh pemegang saham. Artinya, bahwa bagi para pemegang saham semakin kecil atau semakin tinggi angka rasio tidak berpengaruh terhadap return saham yang diterima oleh pemegang saham. Hasil penelitian ini dikarenakan secara empiris para investor dalam melakukan investasi tidak mempertimbangkan DER sebagai penentu return saham melainkan leverage, karena akan memperbesar ekspentansi keuntungan. Bila dilihat secara teoritis rasio ini menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar, sehingga semakin kecil rasio ini semakin baik dan membuat return saham semakin tinggi. Temuan hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian Suharli (2005) bahwa DER tidak berpengaruh terhadap return saham, dan menolak hasil penelitian Natarsyah (2002) bahwa DER mempunyai pengaruh positif dan signifikan.
c)       Varibel ROE (X3) mempunyai pengaruh signifikan dan positif. Hasil ini menunjukkan bahwa ROE mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham yang diterima oleh pemegang saham. Artinya, bahwa bagi para pemegang saham semakin tinggi angka rasio berpengaruh terhadap return saham yang diterima oleh pemegang saham dan cenderung semakin naik return saham yang diterima oleh pemegang saham. Hasil  penelitian  ini  tidak  mendukung  hasil  dari  penelitian Wijaya (2007) yang secara eksplisit bahwa ROE tidak mempunyai pengaruh terhadap return saham, sedangkan rasio ini bagi para pemodal digunakan sebagai ukuran  efektifitas dana pemegang saham yang telah diinvestasikan, dan melalui rasio ini investor dapat memprediksi kemampuan pengembalian (return) hasil investasi dalam saham.
d)       Varibel BV (X4) mempunyai pengaruh tidak signifikan dan negatif. Hasil ini menunjukkan bahwa BV  tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham yang diterima oleh pemegang saham. Artinya, bahwa bagi para pemegang saham semakin kecil atau semakin tinggi angka rasio tidak berpengaruh terhadap return saham yang diterima oleh pemegang saham. Hasil penelitian ini dikarenakan secara empiris para investor dalam melakukan investasi tidak melihat BV sebagai faktor penentu return saham yang akan diterima oleh para investor, karena investor meragukan BV perusahaan sebagai syarat jaminan keamanan (safety capital) atau nilai klaim atas aset bersih perusahaan tidak bisa langsung menjadi liquid apabila perusahaan mengalami kebangkrutan. Hasil penelitian ini menolak hasil penelitian Natarsyah (2002), dinyatakan dalam penelitian tersebut bahwa BV yang pada dasarnya adalah nilai rill suatu saham mempunyai pengaruh yang signifikan, dan mengindikasikan bahwa para investor akan memilih BV dan bersedia membayar harga saham yang lebih tinggi untuk memperoleh tingkat pengembalian (return) yang tinggi dengan syarat jaminan keamanan (safety capital) atau nilai klaim atas aset bersih perusahaan semakin tinggi, BV merupakan perbandingan nilai buku modal sendiri dengan jumlah lembar saham beredar, semakin tinggi nilai buku maka harapan terhadap nilai pasar saham juga tinggi. BV mewakili aktiva tetap perusahaan, berarti perusahaan industri barang konsumsi di pasar modal Indonesia sebagai objek penelitian Natarsyah (2002), cenderung memiliki aset yang banyak dan dikelola dengan baik. Sehingga dapat memperoleh laba, akan cenderung memiliki nilai pasar yang sama dengan nilai bukunya bahkan lebih besar.
4).       Hasil dalam penelitian faktor fundamental yang berpengaruh dominan terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah PER.

5.       SIMPULAN DAN SARAN
a.       Simpulan
Berdasarkan  hasil  dari  analisis  data  penelitian sampel  yang  terpilih  pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia selama  tahun  2004-2008,  maka  dapat  ditarik  kesimpulan  sebagai  berikut:
1)       Faktor-faktor fundamental Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE), dan Book Value (BV) menyatakan bahwa secara  bersama-sama ada pengaruh  yang  signifikan terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di BEI.
2)       Berdasarkan pada  uji  t  (parsial) pada penelitian ini, faktor fundamental Price Earning Ratio (PER) dan Return on Equity (ROE) secara parsial memiliki  pengaruh  siginifikan terhadap return saham perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di BEI. Faktor fundamental Debt to Equity Ratio (DER) dan Book Value (BV) secara parsial tidak memiliki  pengaruh  siginifikan terhadap return saham perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di BEI.
3)       Variabel Price Earning Ratio (PER) berpengaruh dominan terhadap return saham pada perusahaan yang masuk dalam ILQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

b.       Saran
Berdasarkan hasil analisis penelitian dan simpulan maka saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.       Berdasarkan penelitian diatas, kepada pihak-pihak investor yang melakukan investasi pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di BEI dalam melakukan penilaian sebelum melakukan investasi dapat melakukan analisis tidak hanya melihat faktor-faktor fundamental yang menjadi indikator dalam mempengaruhi return saham pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45. Akan tetapi juga melihat penguatan bursa global dan regional, dan penguatan nilai tukar rupiah.
2.       Bagi calon investor yang ingin menanamkan modal di perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di BEI, khususnya dalam membeli saham dengan mengharapkan return saham yang tinggi hendaknya lebih mempertimbangkan faktor-faktor fundamental terutama faktor Price Earnig Ratio dan Return on Equity karena faktor-faktor tersebut terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham, sehingga dapat terhindar dari kerugian akibat jatuhnya harga saham pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di BEI.
3.       Bagi emiten terutama perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di BEI, dapat menggunakan faktor-faktor fundamental terutama faktor-faktor yang terbukti berpengaruh terhadap return saham sebagai sinyal positif bagi calon investor maupun investor untuk menunjukan kualitas dari perusahaan dan mengurangi tingkat ketidakpastian. Terutama PER karena merupakan salah satu faktor fundamental yang signifikan dan positif dominan terhadap return saham. Hal ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan bagi pihak emiten terutama perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di BEI dalam menentukan harga saham, sehingga dapat tercapai suatu fair price yang saling menguntungkan.
4.       Berdasarkan penelitian ini, untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan seluruh perusahaan-perusahaan yang terdapat di BEI dan faktor-faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, keamanan, dan faktor lainnya.

c.        Keterbatasan
Beberapa keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1.       Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian masih relatif sedikit, sehingga tingkat hasil dalam penelitian ini tidak dapat digeneralisasi pada seluruh perusahaan di Bursa Efek Indonesia.
2.       Fokus pembahasan terbatas hanya pada beberapa faktor-faktor fundamental yang dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan, sehingga hasil dalam penelitian ini masih belum memberikan kesimpulan yang bersifat general, masih banyak faktor lain khususnya faktor fundamental lainnya.

Daftar Pustaka

Arifin, Ali. (2002). Membaca Saham, Edisi Pertama. Yogyakarta: Andi.

Brigham, Eugene F., & Houston, Joel F. (2006). Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Penerjemah: Ali Akbar Yulianto. Edisi Kesepuluh, Buku I. Jakarta: Salemba Empat.

Brigham, Eugene F., & Houston, Joel F. (2001). Manajemen Keuangan, Alih Bahasa: Herman Wibowo. Edisi Kedelapan, Buku II. Jakarta: Salemba Empat.

Budileksmana, Antariksa., & Gunawan, Barbara. (2003). Pengaruh Indikator Rasio Keuangan Perusahaan Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) terhadap Return Portofolio Saham di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Akuntansi dan Investasi, Vol. 4 No.2 Juli 2003: 97-124.

Damayanti, Susana., & Achyani, Fatchan. (2006). Analisis Pengaruh Investasi, Likuiditas, Profabilitas, Pertumbuhan Perusahaan dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Deviden Payout Ratio (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ). Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 5 No.1 April 2006: 51-62.

Darmadji, Tjiptono., & Fakhrudin, Hendy M. (2008). Pasar Modal Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab. Edisi Kedua. Jakarta: Salemba empat.

Ghozali, Imam. (2009). Ekonometrika: Teori, Konsep dan Aplikasi dengan SPSS 17. Semarang: Badan Penerbit Universitas Dipenogoro.

Gujarati, Damor. (2005). Ekonometrika Dasar (Basic Econometric), Alih Bahasa: Dra. AK. Sumarno Zain. MBA. Jakarta: Erlangga.

Halim, Abdul. (2003). Analisis Investasi. Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Empat.

Harahap, Sofyan Syafri. (2002). Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Herlianto, Didit. (2008). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Pertama. Yogyakarta: Wimaya Press UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA.

Husnan, Suad., & Pudjiastuti, Enny. (2006). Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi Kelima. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Indonesia Stock Exchange. (2009). available on-line at http://www.idx.co.id.

Jogiyanto. (2008). Teori Portofolio dan Analisis Investas. Edisi Kelima. Yogyakarta: BPFE UGM.

Natarsyah, Syahib. (2002). Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dan Resiko Sistematik terhadap Harga Saham Kasus Industri Barang Konsumsi yang Go-Publik di Pasar Modal Indonesia. Bunga Rampai Kajian Teori Keuangan, September 2002: 537-559.

Pradhono., & Christiawan, Yulius Jogi. (2004). Pengaruh Economic Value Added, Residual Income, Earnings dan Arus Kas Operasi terhadap Return yang diterima oleh Pemegang Saham (Studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta). Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 6 No.2 November 2004: 140-166.

Riyanto, Bambang. (2001). Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE UGM.

Ross, Stephen A., Werterfield, Randolph W., & Jaffe, Jeffrey. (2002). Corporate Finance. Sixth Edition. New York: McGraw-Hill Higher Education.

Siamat, Dahlan. (2005). Manajemen Lembaga Keuangan: Kebijakan Moneter dan Perbankan. Edisi Kelima. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Suharli, Michell. (2005). Studi Empiris Terhadap Dua Faktor yang Mempengaruhi Return Saham pada Industri Food & Beverages di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 7 No.2 November 2005: 99-116.

Sunariyah. (1997). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

Wijaya, Toni. (2007). Kontribusi Rasio Keuangan terhadap Perubahan Laba Perbankan di Bursa Efek Surabaya. Modus, Vol. 19 (1):20-34, 2007.

Wkipedia Ensiklopedia Bebas. (2009). Analisis Fundamental. available on-line at http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_fundamental.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

bagus sekali penelitiannya, saya juga sedang meneliti tentang return saham, tapi dilihat dari roe, npm, eps, dan per..
terima kasih telah menginspirasi