Breaking News
Loading...
Jumat, 06 Agustus 2010

Info Post



Boleh dibilang tulisan penulis kali ini cukup telat untuk dibahas, tapi penulis rasanya perlu untuk ditulis karena ini mengenai insiden yang dilakukan oleh aktor kawakan Indonesia yaitu Pong Harjatmo yang membuat "grafiti" di gedung MPR/DPR RI "kura-kura/kodok". Aksi beliau tersebut dilakukan pada hari Jum'at, 30 Juli 2010 beliau "mencoret" gedung tersebut dengan tulisan sakti yang terdiri dari 3 kata yaitu Jujur, Adil, dan Tegas.

Beliau berujar bahwa "Selama ini baik dari pemerintah maupun wakil rakyat di DPR kok selalu mengambang nggak pernah selesai. Mulai dari kasus Century, gas meledak sampai absensi anggota dewan yang bolong-bolong itu, sekarang bersuara sudah tidak didengarkan dan menulis sudah tidak dibaca". Aksi beliau tersebut menjadi bahan pembicaraan di berbagai media cetak dan elektronik, juga berbagai jejaring sosial. Beliau mengakui, dirinya capai protes dan menyentil di televisi, tetapi tidak didengar, bahkan dianggap hanya entertaiment jenis baru. "Rakyat itu bukan maunya jenis hiburan lain, tapi harus bertindak, ini salah satu tindakan saya supaya didengar," ujarnya (sumber: Tempointeraktif.Com).

Menurut kalian “pembaca” apakah aksi yang dilakukan oleh Pong Harjatmo sudah tepat dimana pada saat ini aspirasi tidak mau didengarkan. Ada beberapa anggota MPR/DPR RI menilai aksi yang dilakukan oleh Pong Harjatmo dianggap tidak memberi contoh pendidikan berdemokrasi, mengapa bisa demikian?. Apakah kalian akan bertindak sama pada saat aspirasi kalian/rakyat tidak didengarkan, seperti apa yang dilakukan oleh beliau “Pong Harjatmo” dengan aksi pencoretan fasilitas umum, sedangkan fasilitas tersebut tidak melakukan hal-hal yang salah terhadap kalian/rakyat, bahkan yang mengalami kerugian adalah kita semua karena tidak dapat lagi menikmati fasilatas tersebut sebagaimana layaknya fasilitas itu digunakan.

Menurut penulis, memang cara orang lain berbeda-beda saat mengekspersikan kemarahannya kepada siapapun saat pendapatnya/aspirasinya tidak didengarkan, ada yang diam dan juga ada yang bertindak “marah/protes”, kalian pilih yang mana?. Penulis bukan melakukan pembelaan kepada para politikus yang menilai aksi Pong Harjatmo tidak mendidik demokrasi, sedangkan meraka saja tidak memberikan pendidikan demokrasi yang sebenarnya. Lalu menurut penulis aksi yang dilakukan Pong Harjatmo kurang setuju, dikarenakan gedung itu dicoret coret. Menurut Penulis yang salah anggota MPR/DPR RI-nya, yang harusnya “dicoret-coret” adalah anggota MPR/DPR RI-nya, karena gedung tersebut tidak mewakili isinya. Penulis takuti kalau kita semua berpikir bahwa lembaga DPR yang salah, maka selamanya kita akan antipati dengan DPR. Jadi penulis berkesimpulan bukan lembaga/gedung MPR/DPR RI-nya, akan tetapi anggota MPR/DPR RI-nya. Jadi apa yang harus kita lakukan?

0 komentar: