Breaking News
Loading...
Sabtu, 04 Juli 2009

Info Post
Entah mau mulai dari mana akan memulai tulisan ini. Dari awal mungkin aku selalau melakukan penyesalan terhadap diriku ini, dan tidak mampu menerima atas apa yang terjadi di dalam diriku saat ini dengan kejadian-kejadian yang selalu ku anggap gagal dalam hidupku ini. Setelah ku membaca sebuah buku, ternyata aku melupakan salah satu ilmu yang sudah dipelajari oleh diriku tapi tidak tahu bagaimana menerapkannya yaitu I.K.H.L.A.S.

Meski waktu datang silih berganti aku tetap saja tidak bisa akan lupa hal tersebut, dan belum bisa melupakan hal tersebut. Ku selalu tertatih-tatih untuk bangkit hingga merasa senang dalam kegagalan yang terjadi pada diriku saat ini. Aku selalu merasa berantakan, kacau, dan hancur karena tidak kemampuan ku dalam meraih sesuatu yang mampu membuatku merasa nyaman, merasa tenang bila bersamanya. Ku selau saja tidak mampu melepaskan bayang-bayang kegagalan. Mencoba untuk mengabaikannya tapi tetap tidak bisa, selalu ku coba untuk membohongi diri sendiri untuk selalu menanti dan menanti.

Setelah di telaah kembali ternyata ikhlas adalah menerima segalanya dengan lapang hati kesalahan atau kegagalan dalam bentuk apa pun yang sudah pernah terjadi. Ternyata selama ini ku belum bisa menerima ke ikhlasan atas kegagalan yang telah terjadi dalam hidupku selama ini, aku selalu menyalahkan diriku sendiri tanpa sadar bahwa aku harus ikhlas, dengan kata lain bersyukur bahwa apa yang kita dapat kemarin dan hari ini adalah hal yang terbaik yang diberikan oleh Allah. SWT., bahwa diriku seakan lupa bahwa Allah.SWT., tidak pernah salah memilihkan peran dan skenario hidup seseorang.

Aku selalu larut dalam ketidakterimaan atas apa yang terjadi kemarin dan saat ini, dan selalu mencari-cari siapa yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada diriku saat ini. Aku seakan lupa bahwa ada teman-teman yang akan selalu mendukung dan akan membantu ku dalam menghadapi semua hal itu, akan tetapi aku selalu menutup diri dengan alasan agar mereka tidak mencampuri dalam permasalahan dalam diriku. Dan juga aku selalu saja mengeluh seakan lupa tempat untuk mengadu kepada siapa, ternyata ku lupa dimana tempat untuk ku untuk bermunajat yaitu Sang Pencipta Diriku dan Sang Pemberi Rizky kepada hidupku yaitu Allah. SWT. Meski aku terlihat sanggup menerima semuanya akan tetapi hati ku rapuh dan tidak mampu akan bangkit kembali. Dalam ikhlas ternyata tidak menerima alasan apa pun dan tidak memiliki syarat apa pun, maka dari itu aku mulai menerapakan pada diriku sedikit demi sedikit untuk ikhlas nanti aku akan sadar dan tebiasa untuk ikhlas, akan ada selalu pepatatah “bisa karena terbiasa”.

0 komentar: